Penulis kali ini berkesempatan melihat langsung lokasi Candi Liyangan di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. dari pengamatan Situs Liyangan selain tempat pemujaan juga merupakan pemukiman yang di perkirakan pada jaman mataram kuno, awal ditemukan Situs Liyangan adalah pertambangan galian C (antara lain pasir dan batu) yang di lakukan oleh penduduk dusun liyangan dan sekitarnya sebagai menghasilan tambahan selain bertani. benda-benda temuan yang terkubur pasir dengan kedalaman sekitar 7 s/d 10 meter dari permukaan tanah. terdapat temuan bangunan talud, candi, bekas rumah kayu dan bambu, strutur bangunan batu, lampu dari bahan tanah liat, dan tembikar berbagai bentuk dan masih banyak lagi.

Candi Liyangan Temanggung

(Candi Liyangan )

Situs Liyangan adalah dengan struktur bangunan batu, temuan tulang dan gigi hewan, dan padi, berdasar gambaran yang lain dari hasil survei penjajakan tersebut Balai Arkeologi Yogyakarta menyimpulkan bahwa Situs Liyangan merupakan situs dengan karakter kompleks, yaitu yang mengindikasikan bahwa lokasi  tersebut adalah situs permukiman atau sebuah desa atau dusun di masanya, selain itu merupakan pula situs ritual, dan situs pertanian.

Penemuan Situs Liyangan memperkuat hipotesis bahwa deretan pegunungan Merapi, Sindoro, Sumbing, dan Dieng menjadi semacam poros berkembangnya permukiman Mataram Kuno. Jawa Tengah berkembang menjadi pusat budaya klasik pada abad 7-10

dari pengamatan penulis dari situs Liyangan masyarakat jaman dulu sudah modern karena di temukan material besi, kaca, tembikar, perungu dan alat-alat pertanian dan pemujaan. dari obrolan masyarakat sekitar tidak ada cerita tentang kehidupan masa lalu di sekitar Situs Liyangan yang menandakan The Lost Generation pada kehidupan sekarang dan masa lalu.

Material yang mengubur kompleks Liyangan ini merupakan aliran piroklastik atau awan panas Sindoro. ”Kompleks ini terkubur dalam satu kali periode letusan karena tak ada perlapisan yang menunjukkan perulangan aliran piroklastik,” ujar Helmy Murwanto, geolog Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta. Volume letusan yang sangat besar mengisi lembah dan meluap ke permukiman.

Karena ledakan gunung berapi , banyak perkembang permukiman Mataram Kuno di Jawa Tengah hilang dan tidak menemukan lagi. Situs Liyangan ini merupakan peradaban masa lalu yang di temukan selain Candi Borobudur, Prambanan dan masih banyak lagi.

inilah fotografi yang sempat penulis abadikan pada situs liyangan :

IMG-20130626-00627 IMG-20130626-00626 IMG-20130626-00625 IMG-20130626-00624 IMG-20130626-00623 IMG-20130626-00618 IMG-20130626-00619 IMG-20130626-00620 IMG-20130626-00621 IMG-20130626-00622

Temanggungcity.wordpress.com

Temanggungcity.wordpress.com

Temanggungcity.wordpress.com

Temanggungcity.wordpress.com

Temanggungcity.wordpress.com

Temanggungcity.wordpress.com

Temanggungcity.wordpress.com

Temanggungcity.wordpress.com

IMG-20130626-00638IMG-20130626-00639 IMG-20130626-00640 IMG-20130626-00641 IMG-20130626-00642 IMG-20130626-00643

Benda-benda ini dapat anda lihat di Balai Desa Purbosari, Ada beberapa benda yang tidak di pamerkan antarai lain Patung dari perunggu berbentuk singa yang di simpan di ketua Desa karena bernilai Seni tinggi.

Saat penulis datang hanya beberapa titik masih di lakukan penggalian karena terlalu besar wilayah situs Liyangan di butuhkan berbulan-bulan mungkin sampai bertahun-tahun untuk mendapatkan komplek candi. inilah perkiraan peta dan temuan dari komplek candi.

peta candi liyangan

Dan inilah Komplek candi yang sebagian sudah dapat di lihat bentuknya;

Candi Liyangan Temanggungcity.wordpress.com

Candi Liyangan
Temanggungcity.wordpress.com

Candi Liyangan Temanggungcity.wordpress.com

Candi Liyangan
Temanggungcity.wordpress.com

Candi Liyangan Temanggungcity.wordpress.com

Candi Liyangan
Temanggungcity.wordpress.com

Candi Liyangan Temanggungcity.wordpress.com

Candi Liyangan
Temanggungcity.wordpress.com

Candi Liyangan Temanggungcity.wordpress.com

Candi Liyangan
Temanggungcity.wordpress.com

Candi Liyangan Temanggungcity.wordpress.com

Candi Liyangan
Temanggungcity.wordpress.com

Parakan 27 September 1945, para pemuda yang tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat ( BKR ) mendapat informasi bahwa tentara Dai Nippon dari Magelang akan menyerbu dan membumihanguskan kota Parakan, untuk membalas dendam atas kematian 3 orang tentara Jepang yang tewas disergap BKR-AMRI di Parakan, beruntung pada saat yang mencekam itu Pasukan Inggris datang ke Indoinesia untuk melucuti persenjataan Tentara Jepang.

parakan 2

Masyarakat mengelu-elukan para pejuang yang datang ke kota Parakan ( 1945 )

Namun keberuntungan itu tak berlangsung lama, karena para pejuang harus menghadapi musuh baru yaitu tentara Inggris yang membawa pasukan khusus Gukha dan tentara dari NICA ( Belanda yang membonceng Inggris )
Situasi memburuk, pertempuran pecah dimana-mana dengan persenjataan yang tidak seimbang, BKR dan AMRI yang hanya membawa senjata rampasan Jepang, tombak, parang, panah dan granat gombyok buatan Muntilan harus menghadapi persenjataan modern dari Gurkha dan NICA, tidak sedikit korban berjatuhan.
Seorang Kyai kharismatik di Parakan yaitu Kyai R. Sumomihardho prihatin melihat hal itu, lewat Abdurrahman bin Subchi beliau memanggil para pemuda diantaranya Abu Jazid, Anwari, Chawari, Ismail, Ichsan, Abu Dzar, Istachori, Djamil, Nur Salim, Nurdin, Supri, Suharto, Subari, Mat Bandoi, Sunaryo dan Suroyo untuk mencari bambu wulung, akhirnya para pemuda itu mendapat bambu wulung dari Pawiroredjo penduduk kampung Jetis, dengan petunjuk Kyai bambu tersebut dipotong-potong tepat saat bedug dzuhur berbunyi.
parakan
Para pejuang memasuki kota Parakan  1945

Hari Selasa Kliwon di bulan Oktober 1945 bambu wulung tersebut disepuh oleh Kyai Sumomihardho untuk dijadikan senjata, berita dengan cepat menyebar ke segala penjuru, sedikitnya ada 40 pemuda dari Parakan Kauman datang berbondong-bondong menyepuh bambu runcing, dan menerima gemblengan-gemblengan bathin.

Sejak saat itu setiap hari Selasa Kliwon para pejuang dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur datang ke kota Parakan, kehebatan Bambu Runcing telah mengundang mereka, sehingga kota Parakan menjadi kota yang padat dengan para pejuang, setiap hari ribuan pemuda datang, kereta api jurusan Parakan – Temanggung – Magelang – Yogyakarta menjadi padat oleh para pemuda, karena perjalanan darat lewat jalan raya tidak mungkin di tempuh, sepanjang jalan menuju Parakan telah dilobangi, jembatan-jembatan telah diputus oleh pejuang untuk menghambat mobilisasi musuh, tidak sedikit dari para pendatang yang sampai menginap di stasiun kereta api, menumpang di rumah penduduk atau di tempat penyepuhan.
Melihat banyaknya pejuang yang datang, Kyai R Sumomihardho memindahkan tempat penyepuhan ke lokasi yang lebih luas dan membagi tugas kepada ulama’ lain, KH Abdurrahman di beri tugas memberi asma’ nasi di beri gula pasir untuk kekebalan, Kyai Ali menerima tugas memberi asma’ banyu wani untuk sugesti keberanian dan menghilangkan rasa capai, Kyai Subchi bertugas memberi do’a, dan Kyai R Sumodihadho sendiri menyepuh bambu runcing serta memberikan petuah-petuah dan do’a.
Tanggal  27 Nopember 1945 terjadi pertemuan di Pendopo Kawedanan Parakan antara Bupati Temanggung Sutikwo dengan para ulama’ dan tokoh masyarakat, untuk membahas pendudukan Tentara Sekutu di Magelang, jarak antara Temanggung dan Magelang sangatlah dekat, hal itulah yang membuat pimpinan pemerintahan di Temanggung itu khawatir, maka diadakanlah pertemuan itu di Parakan, dengan alasan kota Parakan  masih dikuasai BKR dan para pejuang lain, pertimbangan lain untuk mencapai Parakan Tentara Sekutu harus melewati rintangan di 3 Jembatan yaitu di Kali  Progo, Kali Kuas dan Kali Galeh.
Diantara yang hadir dalam pertemuan itu selain Bupati Sutikwo antara lain para ulama’ Kyai R Sumomihardho, KH Subchi, KH Nawawi, KH Abdurrahman, KH Abu Amar, K. Ridwan, K. Ali, K.Sya’ban, K. Salim, K. Sahid Baidhowi serta para umaro’ Wedono Parakan Sastrodiprodjo, Camat Parakan Mangunredjo, H. Sukirman ( Masyumi ), KH. Siradj dari Payaman Magelang ( MIAI ).
Dari pertemuan-pertemuan selanjutnya menghasilkan 4 keputusan:
  1. Gerakan Bambu Runcing di beri nama Barisan Bambu Runcing atau Barisan Muslimin Indonesia (BMT)
  2. Untuk menjalankan aktivitasnya BMT bermarkas ( sekarang di Jl Kosasih ) di sebuah rumah milik seorang warga keturunan Tiong Hwa
  3. Dengan semakin banyaknya pejuang yang datang ke Parakan, penyepuhan bambu runcing dilakukan di markas BMT
  4. Membentuk kepengurusan BMT dengan susunan sebagai berikut:
    • Pelindung   : Sutikwo, Sastrodiprodjo dan Mangunredjo
    • Penasehat  : KH. Subchi, KH Abu Amar, KR Sumomihardho, KH Abdurrahman, KH Nahrowi dan K. Zaenal Abidin CH
    • Ketua        : KH Nawawi, K. Ali dan K. UH Sya’ban
    • Sekretaris  : Sukarman Abdurrahman dan Badrudin
    • Bendahara : H. Ridwan, Mad Suwardi dan H. Afandi
    • Pembantu  : Syahid Baidhowi, K. Kasful Anwar, K Sjuti Thohir dan Adham
    • Seksi Perlengkapan : Sumarno, Wirjoari, Dullah Gembel dan Muh Dajat
    • Seksi Keamanan     : Nur Afandi, H. Mukri dan Djumali
    • Seksi Penerangan    : Syahid Baidhowi dan Sajuti Thohir
    • Seksi Organisasi      : Badrudin
Beberapa hari setelah terbetuknya BMT, datanglah para pejuang dari Banyumas menyepuh bambu runcing dan memohon do’a para kyai untuk melakukan penyerbuan ke Ambahrawa, melihat semangat para pejuang Banyumas itu maka tergerak para pejuang Parakan yang tergabung dalam Laskar Hibullah untuk bergabung dalam penyerbuan ke Ambahrawa.

Do’a dan derai air mata membasahi segenap warga kota Parakan melepas kepergian para pemuda gagah berani itu ke medan laga di Ambahrawa berbekal senjata seadanya dan bambu runcing, kabar selanjutnya yang terdengar adalah beberapa dari putra terbaik bangsa itu gugur, tetesan darah dan hujan air mata semakin membasahi bumi pertiwi, demi kemerdekaan yang kita nikmati saat ini, masihkah kita ingin menghianati perjuangan mereka dengan mencabik-cabik NKRI, hanya bangsa yang besar yang bisa menghargai jasa para pahlawannya.

Penulis berkesempatan melihat langsung para Petani yang membuat Bata Merah dari Tanah liat dari Desa Wadas , Kecamatan Kandangan , kabupaten Temanggung , Daerah Kecamatan Kandangan banyak dari para petani membuat Bata Merah sebagai tambahan mata pencaharian selain bertani dan berkebun. Kualitas Bata Merah dari tempat ini cukup bagus karena pembakaran Bata sudah memakai kayu dari sisa limbah Industri penggergajian kayu. dari informasi yang didapat pembakaran dengan kayu lebih merata dan dapat diatur untuk suhu panasnya dari pada menggunakan skam padi pada umumnya.

Dari perbincangan penulis dengan petani untuk harga 1 bata merah yang sudah jadi seharga Rp.500,- di lokasi . keindahan Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah tidak ada habisnya, inilah Fotografi  Petani Pembuat Bata Merah dari Wadas, Kandangan , Temanggung ;

Gambar

Lokasi Pembuatan Bata Merah adalah di Tengah Sawah

Gambar

Gambar

Lokasi Kerja di Lihat dari Dekat…

Gambar

dari Tempat kerja inilah bata Merah di buat …

Gambar

Dari tanah bumi pala Temangung inilah Petani mencipta karya seni….

Gambar

Lokasi Pembakaran Bata Merah dan inilah Kayu sisa limbah dari pengergajian Kayu

Gambar

Bata di cetak dan siap di bakar…

Gambar

Penulis Menyebut-nya Karya Seni…. karena dari sinilah Bangunan Indah Tercipta.

ditulis oleh: Agung Biantoro

Temanggung Tempo Dulu

December 24, 2012

ini adalah sajian Fotografi dari penulis yang di dapatkan dari Netherlands Institute pada masa penjajahan di Kabupaten Temangung.

Foto -foto  Temanggung Tempo Doeloe ini  di ambil antara tahun 1910 s/d 1930 dimana merupakan masa kejayaan belanda di indonesia.

Foto Temanggung Tempo Dulu part 1

Temanggung Jadul 1

Judul Murid, Sekolahan, Guru, Temanggung
Tahun Pembuatan 1910

sumber Netherlands Institute

Foto Temanggung Tempo Dulu part 2

Temanggung jadul 2

Pikatan Temanggung Tempo doeloe

Foto Pemandian Pikatan Temanggung

di buat tahun 1930

dari gambarnya masih terlihat jelas model kolam renang Pikatan Temanggung, semoga tidak melupakan bangunan awal dalam pembangunannya.

Patung Perunggu dari Kedu Temanggung

 patung temanggung

Patung perempuan dari perungggu abad kedelapan ditemukan di Kedu , Temanggung, Indonesia

Sekarang Patung ini berada di Museum Batavia Society (Museum Nasional / Museum gajah di Jakarta)
Foto Tahun 1937

Wajah Petani Temanggung

Temanggung Jadul3

Wajah Petani Temanggung (lokasi Kabupaten Temanggung)

Foto Judul Kolam Renang

Temanggung Jadul4
Keterangan
Rumah Asisten Louis Henry Eduard Schoonheyt di Temanggoeng di bawahnya terdapat kolam (gambar kurang jelas mungkin terlalu lama)

Tahun di buat Agustus 1924

Foto Judul Sungai di Gunung Sumbing Temanggung
Temanggung Jadul5
Keterangan :
Pengambilan poto ini diatas Gunung Sumbing

Tahun di buat Juli 1921

Lanjutan lihat  : Temanggung Tempo doeloe ke 2

Pat Bie To (Delapan Wanita Cantik) di buat Tahun 1933

Pat Bie To (Delapan Wanita Cantik) Merupakan kisah tragedi 8 perempuan yang menggegerkan masyarakat kalangan Tionghoa dan benar-benar terjadi di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Parakan pada tahun 1930-an. Kejadian tersebut kemudian di bukukan dengan judul “Pat Bie To” sebelum diproduksi tahun 1933 ke layar lebar.

Buku

Roman PAT BIE TO : Kota Parakan Atawa Dlapan Penjeret Jang Oeloeng

Oleh : Hauw Lian Oen
Penerbit : Kantoor “POPULAIR”, Tasikmalaja
Isi : 73 Halaman

Film

Produser:
The Teng Chun
Sutradara:
The Teng Chun
Penulis naskah:
The Teng Chun
Perusahaan film:
Cino Motion Pictures

Kisah nyata ini berawal, pada tahun 1920 an disebuah Kota kecil Parakan Kabupaten Temanggung,  Alkisah ada seorang wanita yang lumayan cantik, yang sudah bersuami, Tjioe Kiem Nio namanya. oleh karena kecantikan Tjioe Kiem Nio itulah membuat, Seorang Hartawan bernama Liem Ma Hay seorang pendatang dari kota Bogor itu jatuh cinta setengah mati, dan dia menjanjikan akan menikahinya serta hidup berdua bahagia,  dan setelah dia berhasil merebut dari suaminya ,maka Tjioe Kiem Nio menjalani hidup berdua bersama Liem Ma Hay tanpa diketahui oleh sang istri, (back street).
Dilain cerita, Syech Giap Nio, seorang wanita yang cantik,periang usia 26 tahun, bersama Pembantunya Esah yang centil, berhasil digaet oleh pemuda Djie Tjeng Gook, yang konon dia seorang pengangguran hasil merebut dari Suaminya Hoo Liang Siem.
Dalam waktu yang tidak jauh berbeda, Hoedjin Tek Kong, juga kena goda oleh pemuda Tan Oen Ling, di waktu yang hampir bersamaan pula, Empat perempuan , Elsje,Doortje,Meentje dan Toona, terkena kibulan empat laki-laki tak bertanggung jawab,yang menyebabkan mereka berempat ,pergi jauh ke kota Magelang tanpa bekal sedikitpun, dan pergi tanpa pesan karena menanggung malu pada keluarganya,  dan tanpa disengaja mereka berempat bertemu dengan sobat lamanya yaitu,Tjioe Kiem Nio, yang ternyata Tjioe Kiem Nio telah di usir dengan kejam oleh Ma Hay, dan menjalani hidup sebagai wanita penghibur,sampai pada akhirnya Tjioe Kiem Nio, hidup menderita karena penyakit kotor, yang membuat ia bertobat, sampai pada akhirnya Tjioe Kiem Nio membuat surat untuk Papa ibunya, dan Papa ibunya keduanya menyusul di Rumah sakit, dan akhirnya karena sakitnya sangat parah sehingga Tjioe Kiem Nio, menghembuskan nafas yang terakhir, atau meninggalkan dunia selama-lamanya.

 

sumber : dari berbagai sumber

 

Grup TemanggungCity on Facebook telah lama hadir dan banyak dari anggotanya yang mengirimkan Foto-Foto yang menarik untuk dilihat Tentang Keindahan Kabupaten Temanggung Saat ini.

Bagi Kadang Temanggung di peratauan atau berada di Temanggung saat ini pasti merasa kangen dengan Bumi Pala Temanggung bisa melihat Fotografi Temanggung kiriman dari teman-teman, dan lebih menarik lagi bila bisa bergabung di Grup TemanggungCity on Facebook.

inilah Fotografi Temanggung on FB Part 1

L Adji Saloko. Di depan kantor bupati….

L Adji Saloko. Saat malam tiba disalah satu sudut Temanggung

Dudu Gondo GodMissyou. Pasar minggu temanggung

Rhäñíä Rähmäñ Aññíë. Ngandong yukkk — di Pasar Parakan.
Rhäñíä Rähmäñ Aññíë. Tiada hari tanpa kulewati dirimu — di Halte Kali Galeh.

 

KRAPDA Temanggung 2012

November 29, 2012

Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Daerah (Krapda) 2012 di Temanggung telah selesai pada Tanggal 25 November 2012 , di selenggarakan selama dua hari mulai 24 November 2012 sampai 25 November 2012 di Pikatan Waterpark Temanggung, acaranya sangat padat sebanyak  767 atlet renang dari 53 perkumpulan se-Jawa Tengah ikut serta pada acara ini.

Acara ini juga merupakan agenda tahunan, juga dalam rangka meperingati Hari Jadi Ke-178 Kabupaten Temanggung yang bertepatan pada 10 November pada tiap Tahunnya.

Mempertandingkan 66 nomor pertandingan, untuk memperebutkan 486 medali. KRAPDA Temanggung merupakan salah satu babak kualifikasi PORPROV 2012 dan ajang pemanasan menuju Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan Seluruh Indonesia (Krapsi)

inilah sebagian Foto-foto Acara KRAPDA Temanggung 2012

Pembukaan Oleh Bapak Bupati Temanggung

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.