Parakan 27 September 1945, para pemuda yang tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat ( BKR ) mendapat informasi bahwa tentara Dai Nippon dari Magelang akan menyerbu dan membumihanguskan kota Parakan, untuk membalas dendam atas kematian 3 orang tentara Jepang yang tewas disergap BKR-AMRI di Parakan, beruntung pada saat yang mencekam itu Pasukan Inggris datang ke Indoinesia untuk melucuti persenjataan Tentara Jepang.

parakan 2

Masyarakat mengelu-elukan para pejuang yang datang ke kota Parakan ( 1945 )

Namun keberuntungan itu tak berlangsung lama, karena para pejuang harus menghadapi musuh baru yaitu tentara Inggris yang membawa pasukan khusus Gukha dan tentara dari NICA ( Belanda yang membonceng Inggris )
Situasi memburuk, pertempuran pecah dimana-mana dengan persenjataan yang tidak seimbang, BKR dan AMRI yang hanya membawa senjata rampasan Jepang, tombak, parang, panah dan granat gombyok buatan Muntilan harus menghadapi persenjataan modern dari Gurkha dan NICA, tidak sedikit korban berjatuhan.
Seorang Kyai kharismatik di Parakan yaitu Kyai R. Sumomihardho prihatin melihat hal itu, lewat Abdurrahman bin Subchi beliau memanggil para pemuda diantaranya Abu Jazid, Anwari, Chawari, Ismail, Ichsan, Abu Dzar, Istachori, Djamil, Nur Salim, Nurdin, Supri, Suharto, Subari, Mat Bandoi, Sunaryo dan Suroyo untuk mencari bambu wulung, akhirnya para pemuda itu mendapat bambu wulung dari Pawiroredjo penduduk kampung Jetis, dengan petunjuk Kyai bambu tersebut dipotong-potong tepat saat bedug dzuhur berbunyi.
parakan
Para pejuang memasuki kota Parakan  1945

Hari Selasa Kliwon di bulan Oktober 1945 bambu wulung tersebut disepuh oleh Kyai Sumomihardho untuk dijadikan senjata, berita dengan cepat menyebar ke segala penjuru, sedikitnya ada 40 pemuda dari Parakan Kauman datang berbondong-bondong menyepuh bambu runcing, dan menerima gemblengan-gemblengan bathin.

Sejak saat itu setiap hari Selasa Kliwon para pejuang dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur datang ke kota Parakan, kehebatan Bambu Runcing telah mengundang mereka, sehingga kota Parakan menjadi kota yang padat dengan para pejuang, setiap hari ribuan pemuda datang, kereta api jurusan Parakan – Temanggung – Magelang – Yogyakarta menjadi padat oleh para pemuda, karena perjalanan darat lewat jalan raya tidak mungkin di tempuh, sepanjang jalan menuju Parakan telah dilobangi, jembatan-jembatan telah diputus oleh pejuang untuk menghambat mobilisasi musuh, tidak sedikit dari para pendatang yang sampai menginap di stasiun kereta api, menumpang di rumah penduduk atau di tempat penyepuhan.
Melihat banyaknya pejuang yang datang, Kyai R Sumomihardho memindahkan tempat penyepuhan ke lokasi yang lebih luas dan membagi tugas kepada ulama’ lain, KH Abdurrahman di beri tugas memberi asma’ nasi di beri gula pasir untuk kekebalan, Kyai Ali menerima tugas memberi asma’ banyu wani untuk sugesti keberanian dan menghilangkan rasa capai, Kyai Subchi bertugas memberi do’a, dan Kyai R Sumodihadho sendiri menyepuh bambu runcing serta memberikan petuah-petuah dan do’a.
Tanggal  27 Nopember 1945 terjadi pertemuan di Pendopo Kawedanan Parakan antara Bupati Temanggung Sutikwo dengan para ulama’ dan tokoh masyarakat, untuk membahas pendudukan Tentara Sekutu di Magelang, jarak antara Temanggung dan Magelang sangatlah dekat, hal itulah yang membuat pimpinan pemerintahan di Temanggung itu khawatir, maka diadakanlah pertemuan itu di Parakan, dengan alasan kota Parakan  masih dikuasai BKR dan para pejuang lain, pertimbangan lain untuk mencapai Parakan Tentara Sekutu harus melewati rintangan di 3 Jembatan yaitu di Kali  Progo, Kali Kuas dan Kali Galeh.
Diantara yang hadir dalam pertemuan itu selain Bupati Sutikwo antara lain para ulama’ Kyai R Sumomihardho, KH Subchi, KH Nawawi, KH Abdurrahman, KH Abu Amar, K. Ridwan, K. Ali, K.Sya’ban, K. Salim, K. Sahid Baidhowi serta para umaro’ Wedono Parakan Sastrodiprodjo, Camat Parakan Mangunredjo, H. Sukirman ( Masyumi ), KH. Siradj dari Payaman Magelang ( MIAI ).
Dari pertemuan-pertemuan selanjutnya menghasilkan 4 keputusan:
  1. Gerakan Bambu Runcing di beri nama Barisan Bambu Runcing atau Barisan Muslimin Indonesia (BMT)
  2. Untuk menjalankan aktivitasnya BMT bermarkas ( sekarang di Jl Kosasih ) di sebuah rumah milik seorang warga keturunan Tiong Hwa
  3. Dengan semakin banyaknya pejuang yang datang ke Parakan, penyepuhan bambu runcing dilakukan di markas BMT
  4. Membentuk kepengurusan BMT dengan susunan sebagai berikut:
    • Pelindung   : Sutikwo, Sastrodiprodjo dan Mangunredjo
    • Penasehat  : KH. Subchi, KH Abu Amar, KR Sumomihardho, KH Abdurrahman, KH Nahrowi dan K. Zaenal Abidin CH
    • Ketua        : KH Nawawi, K. Ali dan K. UH Sya’ban
    • Sekretaris  : Sukarman Abdurrahman dan Badrudin
    • Bendahara : H. Ridwan, Mad Suwardi dan H. Afandi
    • Pembantu  : Syahid Baidhowi, K. Kasful Anwar, K Sjuti Thohir dan Adham
    • Seksi Perlengkapan : Sumarno, Wirjoari, Dullah Gembel dan Muh Dajat
    • Seksi Keamanan     : Nur Afandi, H. Mukri dan Djumali
    • Seksi Penerangan    : Syahid Baidhowi dan Sajuti Thohir
    • Seksi Organisasi      : Badrudin
Beberapa hari setelah terbetuknya BMT, datanglah para pejuang dari Banyumas menyepuh bambu runcing dan memohon do’a para kyai untuk melakukan penyerbuan ke Ambahrawa, melihat semangat para pejuang Banyumas itu maka tergerak para pejuang Parakan yang tergabung dalam Laskar Hibullah untuk bergabung dalam penyerbuan ke Ambahrawa.

Do’a dan derai air mata membasahi segenap warga kota Parakan melepas kepergian para pemuda gagah berani itu ke medan laga di Ambahrawa berbekal senjata seadanya dan bambu runcing, kabar selanjutnya yang terdengar adalah beberapa dari putra terbaik bangsa itu gugur, tetesan darah dan hujan air mata semakin membasahi bumi pertiwi, demi kemerdekaan yang kita nikmati saat ini, masihkah kita ingin menghianati perjuangan mereka dengan mencabik-cabik NKRI, hanya bangsa yang besar yang bisa menghargai jasa para pahlawannya.

Advertisements