ganjil

Teater Ganjil adalah salah satu unit kegiatan seni dan budaya masyarakat Temanggung yang bergerak dibidang kesenian khususnya adalah seni teater. Teater Ganjil berdiri berdasarkan hasil kesepakatan pertemuan rekan-rekan yang dibuat pada surat yang bertanggalkan 9 April 2004 dengan kode surat : No.1-9/TG/2004, rapat yang diadakan di Tlotoar Plasa pada hari Kamis, tanggal 15 April 2004, kemudian 15 April 2004 inilah dijadikan hari berdirinya Teater Ganjil, kemudian kata Ganjil diambil dari kondisi awal yang dibuat di jalanan dan dengan pendiri-pendiri yang mempunyai latar belakan basic seni yang berbeda-beda yaitu M Sugeng S dengan basic teater, Iwan Adi N dengan basic Pantomime, Bayu dengan basic tari, Kuswanto dengan basic musik dan Kokok dengan basic musik.
Sedangkan penentuan gambar lambang teater Ganjil diadakan pada hari rabu tanggal 26 Mei 2004 bertempat di alun-alun Temanggung

Info lebih lanjut http://slot-tuwo.blogspot.com/

Tulisan ini bisa di lihat di Temanggung City


Sejak berperan sebagai Mbok Dukun yang centil dan lucu dalam sendratari Nini Thowok, sosoknya mulai dikenal luas. Sejak itu pula namanya dibaptis menjadi Didik Nini Thowok
Terlahir di Temanggung dengan nama Kwee Tjoen An, berubah menjadi Didik dari ayah Hadiprayitno (Kwee Yoe Tiang).
SMA Negeri I Temanggung, jurusan paspal mas didik mulai berkembang ia pun terus menari dan menari setiap ada kesempatan, berguru dan berguru pada siapa pun yang ditemuinya. Salah seorang gurunya adalah Prapto Prasodjo, yang juga pengajar di padepokan tari milik penari senior Bagong Kussudiarjo di Yogyakarta.
Dengan bantuan dan bimbingan guru-gurunya itu, pada pertengahan 1971, Didik berhasil menciptakan koreografi tari sendiri, yang diberinya judul Tari Persembahan, yang merupakan gabungan gerak tari Bali dan tari Jawa. Inilah tarian pertama yang diciptakan Didik, yang ternyata menjadi awal dari sekian banyak kreasi tari yang diciptakannya di masa depan. Yang lebih mengesankan, Didik diberi kesempatan untuk mempersembahkan Tari Persembahan tersebut pada acara peresmian gedung baru sekolahnya, di Jalan Kartini, Temanggung, yang juga dihadiri Gubernur Jawa Tengah waktu itu, H. Moenadi. Keesokan harinya, acara tersebut (termasuk tarian yang dipersembahkan Didik) muncul di koran Suara Merdeka. “Bagaimana aku tak bangga!” kenang Didik, dengan mata berbinar.

Dalam acara syukuran lulus SMA (1972), Didik tampil menari, membawakan Tari Batik. Di sinilah untuk pertama kalinya Didik tampil sebagai penari wanita. Berkebaya dan bersanggul, dengan luwes ia memamerkan gerakan-gerakan tari yang juga merupakan hasil karyanya sendiri itu.

dan sekarang tarian Mas Didik sudah sampai di seluruh duni dan membawa harum bangsa Indonesia dan Temanggung Khususnya. terus berkarya mas didik

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.