daftar calon menteri SBY – Budiono
October 19, 2009
Berikut daftar calon menteri yang dites hari ini, Proses seleksi ini berlangsung sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 20.30 WIB, Sabtu 17 Oktober 2009:
1. Djoko Suyanto (Menko Polhukam)
2. Hatta Rajasa (Menko Perekonomian)
3. Agung Laksono (Menko Kesra)
4. Sudi Silalahi (Mensesneg)
5. Suryadharma Ali
6. Sri Mulyani (Menteri Keuangan)
7. Gamawan Fauzi (Mendagri)
8. Mari Pangestu (Manteri Perdagangan)
9. Jero Wacik (Menbudpar)
10. M Nuh (Mendiknas)
11. Syarif Hasan (Menakertrans/BUMN)
12. Tifatul Sembiring (Menkominfo)
13. Sutanto (Menkum HAM/ESDM)
14. Salim Segaf al Jufrie (Mensos)
15. Muhaimin Iskandar (Menneg PDT)
16. Andi Mallarangeng (Menpora)
Di sela pemanggilan calon menteri ini sebetulnya sempat muncul mantan Kepala Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh dan Nias, Kuntoro Mangkusubroto. Wartawan semula menduga Kuntoro ikut dipanggil, namun Andi Mallarangeng menegaskan, Kuntoro hanya menyerahkan laporan. Ia baru akan menjalani sesi wawancara Minggu 18 Agustus 2009 besok.
info vivanews
Daftar menteri SBY-Budiono periode 2009-2014
September 8, 2009
Pemerintahan SBY-Budiono periode 2009-2014 telah mengantongi daftar menteri – menteri-nya
Berikut daftar nama-nama calon menteri :
Menteri Koordinator :
1. Menko Politik Hukum dan Keamanan : Sutanto (mantan Kapolri)
2. Menko Perekonomian : Sri Mulyani Indrawati
3. Menko Kesra : Hatta Rajasa (PAN)
4. Sekretaris Negara : Sudi Silalahi
Menteri Departemen :
5. Menteri Dalam Negeri: Andi Alfian Malarangeng (Partai Demokrat)
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa (Dubes RI di PBB)
7. Menteri Pertahanan: Djoko Suyanto (Mantan Panglima TNI)
8. Menteri Hukum dan HAM: Ruhut Sitompul (Partai Demokrat)
9. Menteri Keuangan: M Chatib Basri (FEUI)
10. Menteri Pertambangan dan Energi: Tubagus Haryono (Kepala BPH Migas)
11. Menteri Perindustrian & Pedagangan: MS Hidayat (Kadin)
12. Menteri Pertanian: Dr Ir Herry Suhardiyanto (Rektor IPB)
13. Menteri Kehutanan: Taufik Effendy (Partai Demokrat)
14. Menteri Perhubungan: Prof. Dr. Sutanto Soehodho (UI)
15. Menteri Kelautan dan Perikanan: Dr Ir Mohammad Jafar Hafsah (Partai Demokrat)
16. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: M Jumhur Hidayat
17. Menteri Pekerjaan Umum: Prof Dr Ir Budi Soesilo Supandji (Dirjen Potensi Pertahanan Dephan)
18. Menteri Kesehatan: Dr dr Fachmi Idris (Ketua Umum IDI)
19. Menteri Pendidikan Nasional: Anis Rasyid Bawesdan (Rektor Univ. Paramadina)
20. Menteri Sosial: Hidayat Nur Wahid/Tifatul Sembiring (PKS)
21. Menteri Agama: Dr Salim Segaf Al Jufri (PKS)
Menteri Negara :
22. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik (Partai Demokrat)
23. Menteri Riset dan Teknologi: Dr Andy Noorsaman Sommeng (Dirjen HaKI)
24. Menteri Koperasi dan UKM: Muhaimin Iskandar (PKB)
25. Menteri Lingkungan Hidup: Prof Dr Ir Johny Wahyuadi M. Soedarsono (Guru Besar FTUI)
26. Menteri Pemberdayaan Perempuan: Rahmawati Soekarnoputri
27. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara: Marzuki Alie (Partai Demokrat)
28. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal: Lukman Edy (PKB)
29. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional: Prof Bambang PS Brojonegoro (mantan Dekan FEUI)
29. Menteri BUMN: Sofyan Djalil
30. Menteri Komunikasi dan Informasi: Rizal Malarangeng
31. Menteri Pemuda dan Olahraga: Anas Urbaningrum (Partai Demokrat)
32. Menteri Perumahan Rakyat: Zulkifli Hasan (PAN)
info dari berbagai sumber
Awal penangkapan Teroris di Beji Kedu Temanggung
August 10, 2009
Awal Penangkapan Aris Susanto dan Indra Arie Hermawan, kakak beradik keponakan Muhzahri di bengkel sepeda ontel Pasar Kedu Temanggung tak jauh sekitar 3 km dari penangkapan di rumah Muhzahri yang diduga adalah Noordin M. Top, empat jam sebelum penggerebekan.
Pengakuan keduanya menyebutkan keberadaan yang diduga adalah Noordin M. Top. Polisi lalu menggerebek kediaman Muhzahri dimana Noordin berada.
Pemilik rumah Muhzahri pensiunan guru agama sekolah dasar. Kini ia mengajar di SMP Muhammadiyah Kedu. Muhzahri juga khatib Jumat di masjid Dusun Beji. Selain mengajar, Muhzahri juga berkebun dan menggarap sawah. Istri Muhzahri, Endang Istiningsih, 60 tahun
Polisi lalu menggerebek kediaman Muhzahri, pemilik itu rumah ditangkap sepulang dari sawah. Endang, istri Muhzahri menyatakan tamu asing di rumahnya memang dititipkan Aris. Tapi sang tamu begitu misterius.
Menurut Endang, pria itu dibawa Aris menginap pada Jumat dini hari. Sejak datang, pria tersebut selalu berada di kamar. Endang pun mengaku tak mengetahui adanya penyergapan oleh Tim Densus 88. Saat kejadian, dirinya dan suami, Muhzahri, sedang berada di sawah
Jumat tengah malam, suara tembakan memecah keheningan. Sejak sore, warga sekitar berjubel menyaksikan peristiwa ini pada jarak 50-100 meter. Tepat pukul 24.00, polisi menghalau penduduk hingga jarak satu kilometer. ”Areal ini harus steril, akan ada penyergapan,” kata polisi.
Sabtu pagi itu, pasukan penyergap dari tim antiteror bergerak naik ke bukit, persis di belakang rumah. Sempat pula terjadi dialog antara polisi dan Noor Din. Ia tak ingin menyerah. ”Dia bilang, harus ada polisi yang mati,” kata sumber Tempo. Sumber lain menyatakan, dari dalam rumah sempat ada pengakuan, ”Saya Noor Din.” Ada pula cerita, Noor Din sempat merintih.
Sorot lampu mobil polisi mengarah ke suatu titik tak jauh dari rumah. Senapan polisi kembali menyalak. Seorang warga Kedu mengungkapkan, dua orang ditangkap di kebun jagung sebelah rumah. Mereka terluka. Hingga Sabtu malam, tak jelas siapa yang disergap. Polisi belum memberikan informasi
Tiga jam sebelum kematian teroris itu, polisi masih berusaha mendobrak pintu depan. Bom berdaya ledak rendah mereka gunakan. Pintu terbuka. Robot berkamera segera disusupkan masuk rumah. Polisi melakukan itu setelah gagal membujuk si buron menyerah. Sejak Jumat petang, polisi mengepung dari sisi kiri, kanan, dan depan.
info berbagai media
Pengepungan Rumah teroris di kedu Temanggung
August 7, 2009
Wilayah Kabupaten Temanggung menjadi target Detasemen Khusus 88 Antiteror ( Densus 88 ) setelah kasus bom Hotel JW Marriott dengan pelakunya yang berasal dari Temanggung. saat ini terjadi terjadi pengepungan Rumah teroris Desa Beji, RT 01 RW 07, Kelurahan Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung, Jawa Tengah.
Wilayah Temanggung dalam beberapa berita selalu terkait dengan Kasus Teroris, karena wilayah temanggung merupakan kota kecil yang tidak terlalu ramai, Kabupaten Temanggung sangat mudah di jangkau karena merupakan kota di Poros di Jawa Tengah, berdekatan dengan Semarang, Solo, Yogyakarta dan Purwokerto.
saat berita ini di tulis terjadi pengepungan Rumah Jaringan kelompok Teroris Noordin M. Top di Temanggung dan terjadi tembak menembak dengan Densus 88 Polri , kemungkinan dalam rumah tersebut terdapat beberapa bom yang siap di ledakan.
1 Bom tertinggal di kamar 1808 Hotel JW Marriott
July 21, 2009
Satu paket bom dalam laptop milik kelompok teroris masih utuh tergeletak di kamar 1808 Hotel JW Marriott.
Rangkaian bom yang disimpan dalam tas laptop itu, dibungkus sebuah kardus berwarna hijau yang ditanami baut dan Mur
Dari foto yang diperoleh dari courtesy Metro TV, Selasa (21/7/2009), bom dengan rangkaian elektronik dan bahan peledak diletakkan di dalam kotak plastik. 2 Lampu kecil berwarna merah menyala tampak menyembul dari dalam kotak plastik itu. Sebuah lakban berwarna hitam juga melilit di luar.
Nah, bom dalam kotak plastik tu itu diletakkan di dalam kotak berwarna hijau tersebut berukuran antara 30×20 Cm, yang telah ditanami ratusan baut yang disusun rapat secara horizontal dan vertikal.
Kotak hijau itu pun direkatkan dengan lakban berwarna cokelat dan ditaruh di dalam tas laptop berukuran 14 inci. Bom yang siap diledakkan itu ditemukan polisi masih tergeletak di meja di sisi tempat tidur. Entah alasan apa, pelaku meninggalkan bom itu begitu saja.
Polisi, pada 17 Juli 2009 kemudian menjinakkan bom tersebut dan membedah isinya. Kini barang-barang tersebut telah diamankan pihak kepolisian.
Rangkaian bom seperti ini, seperti diakui pihak kepolisian memang mirip dengan yang selalu dipakai kelompok Jamaah Islamiyah (JI) dan Noordin M Top. Bila dahulu memakai gotri dan paku, maka kini menggunakan mur dan baut

Dua Lampu kecil berwarna merah menyala tampak menyembul dari dalam kotak plastik
infodetik
Siapa sebenarnya Nurhasbi, Nuri Hadi, Nur Sahid, Tersangka Kasus Bom JW Marriot Jakarta
July 21, 2009
Nur Said kelahiran di Temanggung Tahun 1974.
Menamatkan Sekolah Dasar Negeri I Katekan, kemudian melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Assalam Kecamatan Karanggan, Temanggung. Usai tsanawiyah, Nur Said belajar ke Pesantren Al Mu’min Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. “Yang kami tahu Nur Said mondok di Ngruki,” tutur Subawadi.
Tempat Tinggal Nursaid di Dusun Katekan, Desa Katekan, Ngadirejo, berjarak 26 kilometer dari kota Temanggung. Kampung ini ditempati sekitar 500 keluarga, terletak di lereng Gunung Sindoro. Jalannya pun berkelok dan menanjak tajam. Penduduk desa rata-rata petani tembakau.
Benarkah dia pelakunya? Polisi masih menyelidiki. Semua masih serba mungkin. Sebab, jenis DNA dari kedua orang tua Nur Said mesti dicocokkan dengan serpihan tubuh yang ditemukan di dinding kaca dan tembok Hotel JW Marriott. Bom pada Jumat pekan lalu itu sedikitnya menewaskan sembilan orang dan 62 lainnya luka.
Keluarga Nur Said menyangkal Foto Kepala Tak Mirip
July 20, 2009
Foto kepala yang diduga pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott.
Yang beredar dinilai tak mirip dengan Nur Sahid alias Nur Said alias Nuri Hasdi alias Nur Hasbi.
Penilaian itu dikemukakan keluarga dan tetangga Nur Said di kampungnya, RT01 / RW03 Dusun Katekan, Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah.
Pernyataan itu disampaikan oleh puluhan warga tetangga dan beberapa kerabat Nur Said yang ditemui detikcom di sekitar rumah orang tua Nur Said di Dusun Katekan, Desa Katekan,Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Senin (20/07/2009) malam ini.
“Saya tidak yakin kalau antara foto Nur Said ini dan foto kepala yang sudah jenazah itu sama. Sebab, ada beberapa perbedaan yang menyolok,”tegas Ahmad Rafi’i, paman Nur Said.
Rafi’i menilai jika foto potongan kepala pelaku bom bunuh diri yang beredar wajahnya lebar sedangkan Nur Said memiliki wajah yang sempit atau kecil.
Selain itu, bentuk gigi antara kedua foto itu juga dinilai Rafi’i beda jauh. Kalau gigi Nur Said agak besar-besar dan panjang. Sementara, bentuk gigi foto kepala yang beredar kecil-kecil.
Dari postur tubuh, Rafi’i juga menilai bahwa tinggi badan pelaku yang sering dia lihat di beberapa televisi setinggi kira-kira 170 cm-an. Sementara menurut Rafi’i tinggi badan Nur Said hanya setinggi antara 160-165 cm-an saja.
“Wong terakhir ketemu dan ngobrol dengan saya empat tahun lalu tingginya tidak beda jauh dengan saya,” tegas Rafi’i.
Hal yang sama juga disampaikan sepupu Nur Said, Rosyid Ridho kepada detikcom. Rosyid tinggal di sebelah rumah orang tua Nur Said di Desa Katekan.
“Saya kira berbeda, Mas. Tidak ada kemiripan. Kalau foto potongan kepala ini kan foto jenazah yang sudah membengkak. Tetapi kalau foto diri Nur Said yang pakai kacamata ini foto dia sebelum menikah. Jadi agak sulit membedakan tetapi saya yakin ini berbeda,” tegas Rosyid.
Puluhan warga yang berada di depan gang rumah Nur Said pun saat dimintai
keterangan soal kemiripan menyangkal bila foto potongan kepala itu adalah Nur Said.
“Tidak mirip, Mas. Tidak mirip. Lagian kan Nur Said sudah empat tahunan tidak pulang jadi agak sulit untuk membedakannya,”ungkap beberapa warga.
Inisial N yang diungkap Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri 17 Juli 2009 lalu. Namun Kepolisian masih belum mau membuka nama lengkap inisial yang diduga pelaku bom di JW Marriott itu.
Polri belum pernah mengatakan bahwa N sebagai pelaku peledakan bom. Polri pun menyangkal bahwa foto-foto yang beredar adalah dari pihaknya.
infodetikcom
Potongan Kepala diduga mengarah pada Nurhasdi
July 20, 2009

Begitu mendapatkan informasi bahwa pengebom Hotel JW Marriott diduga bernama Nur Hasdi yang berasal dari Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Propinsi Jawa Tengah, langkah cepat langsung ditempuh. Tadi malam dua petugas Laboratorium Forensik Mabes Polri berangkat ke Temanggung. “Kami diperintahkan untuk mencari sampel DNA dari keluarga Nur Hasdi,” kata seorang dokter forensik yang bertugas di Mabes Polri kepada Jawa Pos kemarin (19/7).
Selanjutnya, sampel DNA keluarga Nur Hasdi dicocokkan dengan DNA potongan kepala dan tubuh yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton.
“Nanti, kami cocokkan dengan kepala yang ditemukan di Marriott,” katanya.
Awalnya, Polda Jawa Tengah berupaya mengundang keluarga Nur Hasdi ke Jakarta. “Itu juga diupayakan. Tapi, yang jelas, dua dokter kami sudah berangkat (ke Temanggung, Red),” tutur dia. Setelah didapat, sampel (bisa darah, rambut, atau liur, Red) akan diperiksa dan dicocokkan dengan potongan kepala itu,” lanjutnya.
Dia mengakui bahwa upaya merekonstruksi dan mencocokkan dengan wajah pengebom sangat rumit. “Kami sudah menerima foto-foto dari Densus 88. Jumlahnya 400-an foto. Dicocokkan kalau sketsanya jadi,” terang dia. Mengapa sketsa tersebut belum juga jadi? Bukankah sudah tiga hari? Menurut dokter polisi yang juga menangani kasus pengeboman Marriott pada Agustus 2003 itu, tingkat kerusakan wajah tersebut sangat parah.
“Berbeda dengan 2003, waktu itu dalam dua hari kami sudah bisa perkirakan sketsa wajah pengebom karena lebih utuh,” ungkapnya. Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memang mengungkapkan bahwa kepala milik dua orang yang sangat diduga sebagai pengebom itu rusak berat “Batok kepalanya hancur,” ujar Kapolri Jumat lalu (17/7).
Apakah Nur Hasdi sudah dinyatakan sebagai tersangka? Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna membantah. “Belum ada penetapan nama tersangka. Semua informasi masih ditelusuri,” tutur dia kepada Jawa Pos di Media Crisis Centre kemarin.
Polisi juga mencocokkan potongan kepala itu dengan rekaman CCTV yang menunjukkan wajah tamu di kamar 1808 Hotel JW Marriott. “Dalam semua rekaman yang ada, orang yang dicurigai selalu bertopi. Dalam beberapa frame, dia menggunakan kacamata hitam. Jelas sekali dia sadar terekam CCTV,” papar sumber Jawa Pos di Mabes Polri.
Menurut sumber itu, pengebom Marriott diduga sudah berlatih dan melakukan simulasi tata cara menginap di hotel berbintang lima. “Itu teroris necis. Kalaupun dia orang lama, jelas ada mentor yang mengajarkan prosedur check-in di hotel dan sebagainya,” tegasnya. Pengebom juga tak canggung menggunakan travel bag dan paham benar prosedur menginap di hotel eksklusif.
Di bagian lain, kemarin para petinggi Bareskrim Mabes Polri rapat maraton di Mabes Polri. Rapat itu dipimpin langsung oleh Kabareskrim Komjen Susno Duadji. Hadir dalam rapat tersebut Kepala Pusat Identifikasi Brigjen Bekti Suwarno dan Kadensus 88 Brigjen Saut Usman Nasution. “Satu pintu, melalui humas,” ujar Bekti saat dikonfirmasi Jawa Pos tentang hasil rapat tadi malam.
Sumber Jawa Pos menjelaskan, dalam rapat itu Susno meminta seluruh penyidik mempercepat kerja. “Tak boleh ada HP mati,” ucapnya menirukan Susno. Susno juga meminta setiap tiga jam ada laporan terbaru dari penyidikan. “Kalau ada indikasi awal, langsung follow up. Jangan remehkan setiap informasi,” tegasnya menirukan Susno lagi.
Saksi Pusing Lihat Foto
Hingga tadi malam (19/7) penyidik Densus 88 Mabes Polri masih memeriksa para saksi mata secara intensif. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna menjelaskan, total 35 saksi telah diperiksa. ”Jumlahnya mungkin masih bertambah,” katanya.
Sumber kuat Jawa Pos menuturkan, empat saksi kunci hingga kemarin masih diisolasi di sebuah kamar Hotel Ritz-Carlton. ”Mereka adalah orang-orang yang kami nilai paling tahu soal kemungkinan pelaku (bom bunuh diri),” ujar sumber tersebut.
Empat saksi itu adalah dua resepsionis hotel dan dua petugas security. ”Kami juga memperoleh kopi identitas dan keterangan tentang check in tamu kamar 1808 dari pengakuan mereka,” tuturnya. Sumber itu tidak mau menyebut identitas mereka dengan alasan keamanan penyidikan. ”Mereka bisa terancam,” lanjutnya.
Karena diburu waktu, penyidik akhirnya menyodorkan foto 460 aktivis Jamaah Islamiyah (JI) yang dimiliki Densus 88. ”Mereka mengaku pusing, bingung, dan lupa,” katanya. Padahal, polisi juga memboyong ahli sketsa bom ke ruang pemeriksaan di Hotel Ritz-Carlton.
Sebanyak 460 foto itu hasil pengumpulan lapangan selama sembilan tahun. ”Kalau mereka menunjuk salah satu gambar, ini akan sangat membantu,” ucap sumber tersebut.
Selain empat saksi tersebut, penyidik memeriksa para pegawai kedua hotel. ”Kami juga akan minta keterangan dari para tamu, terutama tamu Hotel JW Marriott,” terangnya.
Kamar 1808 yang diduga sebagai pos perencanaan bom bunuh diri diteliti ulang kemarin. Sebelumnya, di kamar itu ditemukan skema, sebuah ponsel, dan bom rakitan yang disimpan dalam tas laptop (Jawa Pos, 18/7). Kondisi kamar itu masih acak-acakan kemarin. ”Masih dibiarkan seperti awal,” katanya.
Irjen Pol Nanan Soekarna menjelaskan, temuan terkait kamar 1808 terus dikembangkan. ”Nomor ponsel itu bagian dari penyelidikan,” kata Nanan.
Seorang pegawai Hotel JW Marriott yang kemarin diperiksa menjelaskan, sebelum insiden bom, lantai 18 mayoritas dihuni warga asing. ”Saya juga belum pernah masuk ke (kamar) 1808 karena terpasang tanda Don’t Disturb di pintu,” katanya saat dicegat Jawa Pos di depan Hotel Ritz-Carlton.
Lalu, dari mana Anda tahu lantai 18 dihuni orang asing? Pria berusia 20 tahunan itu mengaku berkali-kali melihat penghuni kamar-kamar selain 1808. ”Tadi saya juga ditanya apakah pernah bertemu penghuni 1808. Saya jawab tidak pernah sama sekali,” katanya sambil buru-buru permisi karena tangannya digamit rekannya. ”Maaf Mas, kami tak boleh banyak omong sama manajemen (hotel),” tambahnya.
Sumber Jawa Pos di Mabes Polri menjelaskan, selain saksi di Hotel Marriott dan Ritz-Carlton, penyidik memeriksa CCTV (closed circuit television) Jalan Lingkar Mega Kuningan. ”Kami tetap mencari kemungkinan ada mobil yang dropping tamu, lalu pergi,” katanya. Daftar mobil yang saat itu berada di basemen Ritz-Carlton dan JW Marriott juga sudah diperiksa.
Mabes Polri juga mengirimkan tim penyidik ke Singapura untuk mengembangkan informasi. Nanan tidak membenarkan, tapi juga tidak membantah. ”Apa pun langkah yang dianggap perlu oleh penyidik akan dilakukan,” ujarnya.
Nurhasbi pemuda berusia 35 tahun ini jebolan sebuah pesantren di daerah Jawa Tengah. Ketika bom meledak, petugas menemukan potongan tubuh Nurhasbi tercabik-cabik di lokasi kejadian. Hanya penggalan kepalanya bisa dikenali.
Dari olah TKP ini, Sabtu (18/7) malam polisi memeriksa ulang Bahrudin. Anggota jaringan ‘Kelompok Cilacap’ ditangkap pada 14 Juli lalu, dengan barang bukti sejumlah bom di rumahnya. Setelah polisi memperlihatkan sketsa wajah Nurhasbi, tersangka Bahrudin buka mulut. Ia mengaku bahwa pembom di Hotel JW Marriott itu adalah Nurhasbi.
Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) menyebut pelaku pengeboman berinisial N. Berdasarkan daftar tamu di Hotel JW Marriott, N memakai KTP anas nama Nurhasbi yang bertempat tinggal di RT 010/07 Kel.Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Namun KTP tersebut ternyata palsu, karena saat alamat tersebut dilacak, tidak ada nama Nurhasbi di RT 010/07 Kel.Pondong Pinang. Dengan KTP palsu ini, Nurhasbi berhasil menginap di kamar 1008 Hotel JW Marriott. Ia juga membayar tunai biaya sebesar 1.400 US dolar.
Selain Nurhasbi, salah seorang wanita yang diduga anggota jaringan teroris membawa bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton. Wanita ini tewas dengan kondisi tubuh hancur. Nurhasbi dan wanita teroris itu bagian dari delapan orang yang tergabung dalam ‘Kelompok Cilacap’.
Jaringan ini sering bertemu di rumah Baharudin di Desa Pasuruhan, Cilacap, Jawa Tengah. Bahkan, gembong teroris asal Malaysia, Noordin M.Top juga sering bertandang ke tempat ini.
Saat bom meluluhlantahkan sebagian ruangan di kedua hotel bintang lima milik pengusaha Amerika dan Indoensia ini, mereka telah menyiapkan semuanya dengan matang. Dengan dana besar yang dicurigai berasal dari luar negeri, tidak masalah bagi kelompok yang termasuk dalam Jaringan Jamaah Islamiyah ini menginap di hotel mewah dan mahal sekali pun.
Hal itu diakui Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Chryssanda mengakui pelaku dibiayai jaringan teroris internasional karena mampu menginap di hotel mewah dan mahal.
info dari berbagai sumber
Pembicaraan pada Pukul 07.45
pagi itu Dikdik Ahmad Taufik, 39 tahun, baru saja berganti tugas menjadi Supervisor Keamanan di lantai utama Hotel JW Marriott, Jakarta Selatan. Tugas utama dia pagi itu, mengawas dan melayani para tamu hotel di Lounge Syailendra yang sedang sarapan. Dari arah lobi hotel, dia melihat seorang lelaki berwajah oval, kurus, dan tinggi badan sekitar 170 centimeter. Dari penampilannya, tidak ada yang mencurigakan dari pria yang saat itu bertopi dan berjas hitam. “Awalnya barang bawaannya yang menarik perhatian saya,” kata Dikdik kepada wartawan yang menjenguknya di Rumah Sakit Jakarta, Jumat (18/7).
Pria itu membawa koper beroda yang ditarik, dan tas ransel besar yang diletakkan di depan tubuhnya. Dikdik mengira pria yang baru pertama kali dilihatnya itu hendak check out dari hotel. Saat itu ia mulai merasa curiga dengan pria itu. “Kalau mau check out mengapa arahnya tidak ke kasir, malah ke lounge,” batinnya.
Ia pun menuntaskan rasa curiganya dengan menyapanya, dan Dikdik ingat betul percakapan itu. “Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?,” katanya kepada pria itu. “Pagi, saya mau bertemu bos saya di dalam,” kata pria itu. Dikdik lalu membalas, “kira-kira ada perlu apa, pak?” Lalu pria itu menjawab, “Ingin mengantar pesanan ke bos saya itu,” jawabnya lagi.
Karena merasa tidak ingin mengganggu tamu hotel, ia tidak melanjutkan percakapan itu. “Jika memang benar bosnya di dalam, saya tidak ingin dikomplain tamu,” kata Dikdik sambil terbaring lemah di atas kasur rumah sakit.
Lalu dia memanggil seorang temannya, juga seorang petugas keamanan, yang saat itu berada di belakang mereka untuk membantu pria itu menemui bosnya. Ia sempat melihat pria itu celingak-celinguk di depan pintu lounge, dan memegang telepon seluler. “Karena merasa sudah ada teman yang menangani, saya lalu pergi,” katanya.
Baru saja ia berjalan beberapa langkah menuju lobi, tiba-tiba terdengar suara ledakan. “Kuping saya berdenging, tapi tidak pingsan,” katanya. Setelah bunyi ledakan, ia sempat melarikan diri dan melihat banyak debu beterbangan. Dan baru sadar kakinya sudah tertindih steeling toko hingga terluka. Sementara temannya yang bertugas menemani pembawa bom itu, meski selamat tapi terluka parah.
Kini ia dirawat di kamar 359 A Rumah Sakit Jakarta, Jakarta Selatan. Kedua tangannya diperban dan dipasangi infus. Wajahnya terdapat luka lecet akibat serpihan ledakan. Ia merasa beruntung, tidak terluka parah. Bahkan dokter menyatakan kupingnya normal meski mendenghar suara bom dari jarak dekat. “Hanya punggung saya sakit karena terlontar gelombang ledakan,” katanya.
Ia juga sempat mengoreksi rekaman CCTV detik-detik ledakan yang ditayangkan televisi. “Rekaman itu sudah diedit,” katanya. Di rekaman itu, Dikdik dan temannya berada di terlihat gelap, yang dituju si pembawa bom. Yaitu pintu menuju Lounge Syailendra. Wilayah itu terlihat gelap di CCTV, “karena memang kurang cahaya,” kata Dikdik.
Di tayangan televisi, saat pria itu masuk ke daerah yang terlihat gelap, langsung terlihat ada ledakan. Harusnya, kata Dikdik, ada waktu sekitar satu menit sebelum ledakan terjadi. Yaitu saat terjadi dua penggal percakapan antara dirinya dengan si pembawa bom. “Peristiwanya memang berlangsung cepat,” kata pria yang sudah bekerja sejak tahun 2001 di Hotel JW Marriott ini.
Ia mengaku tidak bisa menjelaskan detail wajah si pelaku. Namun bila melihat foto pelaku, ia bisa mengenalinya. “Saat ini saya bersyukur bisa selamat dari ledakan ini,” kata pria yang juga mengalami pemboman hotel tempatnya bekerja pada tahun 2003 lalu.
Dugaan kuat adalah Nurhasbi alias Nuri Hadi alias Nur Sahid pada saat tanggal 15 Juli 2009 terdaftar sebagi penghuni kamar 1808 di kamar hotel mewah JW Marriot
pernah tinggal di RT01 / RW03 Dusun Katekan, Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung
info dari berbagai sumber
Keluarga Nur Sahid menjalani tes DNA
July 20, 2009
Keluarga Nur Hasbi alias Nur Sahid tersangka teroris di Temangung, Jawa Tengah , yang dibawa pergi, Senin (20/7), diperkirakan menjalani tes DNA. Tes itu untuk memastikan adanya hubungan secara genetika keluarga Muhammad Nasir (60), ayah tersangka Nur Hasbi alias Nur Sahid. Meski para tetangga tidak mengetahui tujuan penjemputan keluarga Muh Nasir, tes DNA adalah prosedur baku yang dijalaninya untuk memastikan adanya hubungan keluarga ini dengan tersangka.
Hanya saja, sejak Muh Nasir dan anggota keluarga lainnya dijemput petugas pada pukul 05.00 dengan menggunakan dua mobil Kijang, tidak banyak tetangga yang mengetahuinya. Muh Nasir dijemput oleh petugas, diperkirakan petugas gabungan dari Polda Jawa Tengah dan anggota Detasemen Khusus 88, dari rumahnya di Dusun Katekan, Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung.
Ny Saropah, tetangga Muh Nasir, ketika ditemui mengatakan, keluarga Muh Nasir yang dijemput petugas itu di antaranya istrinya dan dua anaknya yang terhitung masih adik dari tersangka pengebom JW Marriott. “Mereka tampaknya tidak sempat mandi karena setelah adzan subuh, datang mobil penjemput. Penjemputnya tiba tanpa banyak ngobrol, lalu membawa keluarga Muh Nasir. Saya lihat juga tidak banyak bawa bekal pakaian,” ujar Saropah.
Namun, sewaktu ditanyakan ke mana keluarga itu hendak dibawa, hanya ada jawaban singkat dari penjemput, kalau mereka akan dibawa ke Semarang. Sejumlah petugas berpakaian preman yang berada di rumah Muh Nasir juga mengaku tidak tahu keberadaan keluarga Muh Nasir.
Rosyid Ridho (32), yang ditemui ANTARA News di depan rumah asal Nur di Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, di Temanggung, Senin (20/7).Ridho mengatakan, Nasir dan Tuminem yang juga ayah dan ibu Nur dijemput sejumlah aparat dengan didampingi Kepala Desa Katekan, Muhammad Tohir, dan Kepala Dusun Katekan, Kukuh Riyanto. Ia mengaku tidak mengetahui tempat tes DNA yang akan dijalani mereka untuk memastikan identitas Nur Sahid. “Belum tahu apa di polres, polda atau Jakarta,” kata Rosyid yang juga teman masa kecil Nur.











email biantoro1978@gmail.com

